Tampilkan postingan dengan label katak. Tampilkan semua postingan
Senin
Pengkondisian Kodok Pacman sebelum Pemijahan
tasik - Agar sepasang kodok Pacman jantan dan betina yang telah dewasa memiliki kondisi fisik prima serta telah siap kawin dan berproduksi maka kita perlu menempatkan keduanya ditempat yang telah kita kondisikan sesuai dengan kondisi dialam mereka yaitu kondisi periode dingin dan kering untuk mendorong mereka untuk kawin. Sobat ternak bisa lakukan dengan menempatkan mereka didalam sebuah tank dengan lapisan sphagnum moss yang dalam, dan membiarkannya untuk mengering (dengan cara tidak menyemprotkan air).
Semangkok air sebaiknya Sobat sediakan terus supaya kodok tersebut bisa mencarinya apabila mereka memerlukan walaupun mereka mungkin hanya akan berdiam didalam moss. Suhu didalam kandang mereka sebaiknya diturunkan hingga sekitar 70 F (atau 21 C ). Pelihara kodok-kodok ini seperti ini sekitar selama dua bulan. Mereka mungkin tidak akan makan selama periode ini.( Blue peppermint pacman frog )
Semangkok air sebaiknya Sobat sediakan terus supaya kodok tersebut bisa mencarinya apabila mereka memerlukan walaupun mereka mungkin hanya akan berdiam didalam moss. Suhu didalam kandang mereka sebaiknya diturunkan hingga sekitar 70 F (atau 21 C ). Pelihara kodok-kodok ini seperti ini sekitar selama dua bulan. Mereka mungkin tidak akan makan selama periode ini.( Blue peppermint pacman frog )
Kamis
Limnonectes Larvaepartus Jenis Katak Yang Melahirkan
Indonesia - Setahu kita bahwa selama ini katak merupakan salah satu hewan yang bereproduksi dengan cara bertelur. Namun dihutan pedalaman Sulawesi terdapat katak unik bernama latin/ilmiah Limnonectes larvaepartus ini cara reproduksinya dengan cara melahirkan kecebong. Berikut adalah berita selengkapnya yang kami dapat dari kompas.
Djoko Tjahjono Iskandar, herpetolog (pakar katak dan reptil) yang menemukan spesies tersebut mengungkap kisah panjang di balik penemuan katak yang tersebar di Sulawesi bagian barat dan dunia itu.
"Sebenarnya, kita sudah menjumpai pertama kali katak itu sejak tahun 1991. Waktu itu ada ahli asal Chicago yang ikut meneliti bersama kita," ungkap Djoko yang meneliti katak dan reptil sejak tahun 1975.
Penemuan tak segera dipublikasikan karena ada 2 masalah. Djoko menjumpai sejumlah spesies katak yang mirip sehingga jenis katak yang melahirkan itu belum bisa dikonfirmasi sebagai spesies baru.
Permasalahan lain, Djoko belum mengetahui persebaran katak yang melahirkan kecebong serta belum memiliki jumlah sampel individu dan perjumpaan proses melahirkan yang cukup untuk meyakinkan publik.
Djoko pun harus menunggu beberapa lama untuk memaparkan temuannya. Tahun 1998, dalam sebuah seminar di Manado, Djoko baru memaparkan pertama kali adanya jenis Limnonectes larvaepartus, namun belum menyebut nama spesies dan proses reproduksinya.
Setelah seminar itu, Djoko beserta tim peneliti lain dan mahasiswanya terus menggali informasi tentang katak tersebut. Ia beberapa kali melaksanakan ekspedisi, masuk ke hutan-hutan di Sulawesi.
"Dari situ saya sebenarnya berencana menulis makalah tebal, 200 halaman. Tapi kemudian saya mengetahui ada tim peneliti lain yang juga mempelajari spesies yang saya temukan," urai Djoko.
Akhirnya, tahun 2014, lewat kerjasama dengan Ben J Evans dari McMaster University di Kanada dan Jimmy A McGuire dari University of California di Berkeley, Djoko merasa perlu untuk memublikasikan temuannya.
Untuk mengidentifikasi sebagai spesies baru, bukan hanya ciri-ciri fisik yang digunakan, tapi juga analisis molekuler yang mengungkap kekhasan genetik suatu spesies. Data tingkat genetik membuat kebaruan spesies tak terbantahkan.
Jadilah kemudian spesies Limnonectes larvaepartusdipublikasikan di jurnal PLOS ONE pada 31 Desember 2014 lalu. Dalam publikasi itu, Djoko menyatakan bahwa katak tersebut adalah satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.
Djoko menceritakan, sepanjang tahun 1991 hingga 2014 lewat beragam ekspedisi, dirinya berhasil membuktikan sebanyak 19 kali bahwa spesies Limnonectes larvaepartus memang bisa melahirkan.
"Kita pernah amati langsung. Saat dipegang katak itu memang bergoyang-goyang dan akhirnya keluar kecebong," cerita ahli katak yang meraih gelar doktor dari Université Montpellier 2 di Montpellier Perancis ini.
"Kita juga pernah bedah katak itu. Kita temukan telur yang sudah dibuahi dan kecebong. Telurnya lalu kita pindahkan ke gelas plastik dan setelah ditunggu memang lalu menetas menjadi kecebong," imbuhnya.
Dalam ekspedisi terakhir di Sulawesi sebelum publikasi, Djoko bercerita betapa dirinya harus berjuang saat menjelajahi hutan. "Maklum sekarang sudah tua," ucapnya yang kini telah berusia 64 tahun.
Bersama Evans dan McGuire, Djoko bertahan satu bulan di dalam hutan meneliti katak yang mengejutkan dunia itu. "Lutut kadang bengkak. Tapi tua bukan alasan untuk tidak masuk hutan," ucapnya.
Kini Limnonectes larvaepartus masih menyisakan teka-teki. Pejantan spesies itu tak memiliki penis. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sperma bisa disetor ke dalam tubuh betina dan membuahi sel telur?
Djoko mengatakan, penelitian masih perlu dilakukan. 'Mungkin kita perlu taruh di akuarium agar bisa diamati. Tapi tidak mudah juga membawa spesimen hidup ke luar hutan, apalagi ke Jawa. Kita tunggu ada kesempatan dan dana dulu," katanya.
http://sains.kompas.com/read/2015/01/08/16341071/Kisah.Ilmuwan.ITB.Menemukan.Satu-satunya.Katak.di.Dunia.yang.Melahirkan.Kecebong
Djoko Tjahjono Iskandar, herpetolog (pakar katak dan reptil) yang menemukan spesies tersebut mengungkap kisah panjang di balik penemuan katak yang tersebar di Sulawesi bagian barat dan dunia itu.
"Sebenarnya, kita sudah menjumpai pertama kali katak itu sejak tahun 1991. Waktu itu ada ahli asal Chicago yang ikut meneliti bersama kita," ungkap Djoko yang meneliti katak dan reptil sejak tahun 1975.
Penemuan tak segera dipublikasikan karena ada 2 masalah. Djoko menjumpai sejumlah spesies katak yang mirip sehingga jenis katak yang melahirkan itu belum bisa dikonfirmasi sebagai spesies baru.
Permasalahan lain, Djoko belum mengetahui persebaran katak yang melahirkan kecebong serta belum memiliki jumlah sampel individu dan perjumpaan proses melahirkan yang cukup untuk meyakinkan publik.
Djoko pun harus menunggu beberapa lama untuk memaparkan temuannya. Tahun 1998, dalam sebuah seminar di Manado, Djoko baru memaparkan pertama kali adanya jenis Limnonectes larvaepartus, namun belum menyebut nama spesies dan proses reproduksinya.
Setelah seminar itu, Djoko beserta tim peneliti lain dan mahasiswanya terus menggali informasi tentang katak tersebut. Ia beberapa kali melaksanakan ekspedisi, masuk ke hutan-hutan di Sulawesi.
"Dari situ saya sebenarnya berencana menulis makalah tebal, 200 halaman. Tapi kemudian saya mengetahui ada tim peneliti lain yang juga mempelajari spesies yang saya temukan," urai Djoko.
Akhirnya, tahun 2014, lewat kerjasama dengan Ben J Evans dari McMaster University di Kanada dan Jimmy A McGuire dari University of California di Berkeley, Djoko merasa perlu untuk memublikasikan temuannya.
Untuk mengidentifikasi sebagai spesies baru, bukan hanya ciri-ciri fisik yang digunakan, tapi juga analisis molekuler yang mengungkap kekhasan genetik suatu spesies. Data tingkat genetik membuat kebaruan spesies tak terbantahkan.
Jadilah kemudian spesies Limnonectes larvaepartusdipublikasikan di jurnal PLOS ONE pada 31 Desember 2014 lalu. Dalam publikasi itu, Djoko menyatakan bahwa katak tersebut adalah satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.
Djoko menceritakan, sepanjang tahun 1991 hingga 2014 lewat beragam ekspedisi, dirinya berhasil membuktikan sebanyak 19 kali bahwa spesies Limnonectes larvaepartus memang bisa melahirkan.
"Kita pernah amati langsung. Saat dipegang katak itu memang bergoyang-goyang dan akhirnya keluar kecebong," cerita ahli katak yang meraih gelar doktor dari Université Montpellier 2 di Montpellier Perancis ini.
"Kita juga pernah bedah katak itu. Kita temukan telur yang sudah dibuahi dan kecebong. Telurnya lalu kita pindahkan ke gelas plastik dan setelah ditunggu memang lalu menetas menjadi kecebong," imbuhnya.
Dalam ekspedisi terakhir di Sulawesi sebelum publikasi, Djoko bercerita betapa dirinya harus berjuang saat menjelajahi hutan. "Maklum sekarang sudah tua," ucapnya yang kini telah berusia 64 tahun.
Bersama Evans dan McGuire, Djoko bertahan satu bulan di dalam hutan meneliti katak yang mengejutkan dunia itu. "Lutut kadang bengkak. Tapi tua bukan alasan untuk tidak masuk hutan," ucapnya.
Kini Limnonectes larvaepartus masih menyisakan teka-teki. Pejantan spesies itu tak memiliki penis. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sperma bisa disetor ke dalam tubuh betina dan membuahi sel telur?
Djoko mengatakan, penelitian masih perlu dilakukan. 'Mungkin kita perlu taruh di akuarium agar bisa diamati. Tapi tidak mudah juga membawa spesimen hidup ke luar hutan, apalagi ke Jawa. Kita tunggu ada kesempatan dan dana dulu," katanya.
http://sains.kompas.com/read/2015/01/08/16341071/Kisah.Ilmuwan.ITB.Menemukan.Satu-satunya.Katak.di.Dunia.yang.Melahirkan.Kecebong
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

